Mengenal Terapi Panas dalam Penelitian Diabetes

Panas bukan hanya faktor lingkungan yang memengaruhi kenyamanan tubuh. Dalam penelitian fisiologi, paparan suhu tertentu juga digunakan sebagai rangsangan untuk mempelajari respons sel dan perubahan metabolisme.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai passive heat therapy atau terapi pemanasan pasif. Berbeda dengan olahraga yang meningkatkan suhu tubuh melalui aktivitas otot, pemanasan pasif memberikan panas dari luar tanpa mengharuskan seseorang melakukan aktivitas fisik berat.

Beberapa metode yang diteliti meliputi sauna, berendam dalam air hangat, ruang pemanas, dan pemanasan lokal pada bagian tubuh tertentu.

Ketertarikan terhadap metode ini muncul karena peningkatan suhu tubuh dapat mengaktifkan berbagai respons biologis, termasuk sistem heat shock proteins (HSP). Protein tersebut membantu mempertahankan kualitas protein lain dan mendukung kemampuan sel menghadapi tekanan.

Dalam penelitian diabetes tipe 2, para ilmuwan berusaha mengetahui apakah aktivasi respons HSP melalui pemanasan pasif dapat berhubungan dengan perubahan sensitivitas insulin, peradangan, dan pengendalian glukosa.

Namun, penting membedakan kemungkinan manfaat biologis dengan keberhasilan pengobatan yang sudah dibuktikan melalui uji klinis. Pemanasan pasif masih merupakan bidang penelitian, bukan pengganti pengobatan diabetes.

Bagaimana Panas Mengaktifkan Heat Shock Proteins?

Ketika suhu jaringan meningkat, sel mengalami perubahan yang dapat mengganggu kestabilan protein. Sebagai bagian dari mekanisme adaptasi, tubuh mengaktifkan respons kejut panas atau heat shock response.

Proses ini melibatkan faktor transkripsi bernama heat shock factor 1 (HSF1). Dalam kondisi tertentu, HSF1 mengalami aktivasi, membentuk kompleks aktif, dan berinteraksi dengan bagian DNA yang mengatur ekspresi protein respons stres.

Salah satu hasilnya adalah peningkatan produksi HSP tertentu, termasuk HSP70 atau HSP72.

HSP70 membantu menangani protein yang salah lipat, mencegah penggumpalan protein, dan mempertahankan fungsi komponen seluler. Karena itu, protein ini menarik perhatian dalam penelitian yang menghubungkan stres metabolik dengan resistensi insulin.

Peneliti mengusulkan bahwa peningkatan aktivitas HSP70 dapat membantu mengendalikan sejumlah jalur stres seluler, termasuk jalur yang berhubungan dengan JNK dan NF-κB.

Kedua jalur tersebut terlibat dalam pengaturan peradangan dan dapat berinteraksi dengan mekanisme pensinyalan insulin.

Akan tetapi, aktivasi HSP tidak berlangsung dengan pola yang sama pada setiap individu. Besarnya respons bergantung pada suhu, durasi paparan, jaringan yang menerima panas, dan kondisi kesehatan seseorang.

Penelitian juga masih membedakan perubahan HSP70 di dalam sel dengan HSP70 yang beredar di luar sel. Keduanya tidak selalu menunjukkan fungsi biologis yang sama.

Mengapa Pemanasan Pasif Dipelajari untuk Resistensi Insulin?

Pada diabetes tipe 2, jaringan tubuh mengalami penurunan sensitivitas terhadap insulin. Akibatnya, tubuh membutuhkan respons insulin yang lebih besar untuk membantu mengatur kadar glukosa darah.

Otot rangka merupakan salah satu jaringan penting dalam proses tersebut karena berperan besar dalam penggunaan glukosa.

Ketika tubuh menerima rangsangan panas, aliran darah dapat berubah dan sejumlah jalur metabolik ikut merespons. Para peneliti kemudian mempelajari apakah perubahan tersebut dapat mendukung penggunaan glukosa dan fungsi metabolik.

Salah satu mekanisme yang mendapat perhatian adalah nitric oxide (NO), molekul yang berperan dalam pelebaran pembuluh darah. Perubahan ketersediaan NO dapat memengaruhi aliran darah menuju jaringan yang aktif secara metabolik.

Selain itu, peningkatan HSP70 secara teoritis dapat mendukung pemeliharaan protein dan mengurangi beberapa bentuk tekanan seluler.

Kombinasi mekanisme tersebut menjadi dasar hipotesis bahwa pemanasan pasif mungkin mempunyai manfaat metabolik.

Namun, perubahan aliran darah atau ekspresi protein belum tentu menghasilkan penurunan glukosa darah yang bermakna. Manfaat klinis harus dibuktikan melalui pengukuran pada manusia dalam penelitian yang dirancang dengan baik.

Penelitian Berendam Air Hangat pada Penderita Diabetes Tipe 2

Salah satu penelitian yang cukup menarik diterbitkan dalam American Journal of Physiology-Endocrinology and Metabolism pada Desember 2023.

Penelitian tersebut melibatkan 14 orang dengan diabetes tipe 2 yang mengikuti program berendam dalam air hangat. Setiap sesi berlangsung selama satu jam dengan suhu air sekitar 40°C, sebanyak 8–10 kali dalam periode 14 hari.

Para peneliti mengukur beberapa parameter, termasuk sensitivitas insulin, glukosa darah, kadar insulin, HSP70 ekstraseluler, dan penanda peradangan.

Hasilnya menunjukkan beberapa perubahan:

  • Sensitivitas insulin saat puasa mengalami peningkatan.
  • Kadar insulin saat puasa mengalami penurunan.
  • Kadar glukosa saat puasa tidak mengalami perubahan bermakna.
  • Pengukuran sensitivitas insulin setelah konsumsi glukosa tidak menunjukkan peningkatan bermakna.
  • Kadar HSP70 ekstraseluler dan penanda peradangan tidak mengalami perubahan bermakna.

Penelitian tersebut memberikan petunjuk bahwa pemanasan berulang mungkin memengaruhi beberapa aspek metabolisme. Namun, peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa perubahan sensitivitas insulin terjadi karena peningkatan HSP70, sebab kadar protein tersebut tidak menunjukkan perubahan yang bermakna.

Jumlah peserta yang kecil dan durasi intervensi yang singkat juga membatasi kesimpulan penelitian.

Artinya, hasil ini menarik untuk penelitian selanjutnya, tetapi belum membuktikan bahwa berendam air hangat merupakan terapi diabetes yang efektif.

Bagaimana Hasil Penelitian Sauna pada Diabetes?

Selain berendam air hangat, sauna juga menjadi salah satu metode pemanasan pasif yang diteliti.

Sebuah uji klinis acak silang yang diterbitkan pada November 2024 mempelajari efek satu sesi sauna inframerah terhadap pengaturan glukosa setelah makan pada penderita diabetes tipe 2.

Penelitian tersebut melibatkan 12 peserta dengan rata-rata usia sekitar 69 tahun. Mereka menjalani dua kondisi percobaan, yaitu beristirahat di ruang bersuhu netral dan mengikuti sesi sauna inframerah bersuhu 60°C selama 40 menit.

Setelah setiap sesi, peserta menjalani tes toleransi glukosa oral untuk mengevaluasi respons tubuh terhadap konsumsi glukosa.

Hasilnya cukup penting untuk dipahami. Satu sesi sauna tidak meningkatkan kemampuan tubuh mengendalikan glukosa setelah konsumsi glukosa. Bahkan, luas area peningkatan glukosa dalam pengukuran dua jam setelah paparan panas lebih tinggi dibandingkan kondisi netral.

Peneliti juga tidak menemukan peningkatan sensitivitas insulin yang bermakna.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan suhu tubuh secara akut tidak otomatis memperbaiki metabolisme glukosa pada penderita diabetes tipe 2.

Apa Kata Meta-Analisis tentang Terapi Panas?

Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas, para ilmuwan juga melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis yang menggabungkan hasil beberapa penelitian.

Salah satu meta-analisis yang diterbitkan pada 2021 dalam International Journal of Hyperthermia mengevaluasi lima penelitian intervensi mengenai pemanasan pasif pada penderita diabetes tipe 2.

Hasil gabungannya tidak menemukan perubahan yang signifikan pada beberapa parameter utama:

  • HbA1c, dengan perbedaan rata-rata sekitar -0,549% dan nilai p = 0,131.
  • Glukosa darah puasa, dengan perbedaan rata-rata sekitar -0,290 mmol/L dan nilai p = 0,355.
  • Trigliserida, yang juga tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Peneliti menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk memastikan manfaat klinis terapi panas terhadap pengendalian diabetes.

Meta-analisis tersebut juga menyoroti perlunya penelitian acak dengan jumlah peserta lebih besar dan periode pengamatan lebih panjang.

Tinjauan lebih luas yang diterbitkan pada 2025 dan mencakup 20 uji klinis acak tentang pemanasan pasif pada orang dewasa juga tidak menemukan efek gabungan yang signifikan untuk sebagian besar parameter kardiometabolik, termasuk glukosa puasa dan HbA1c.

Namun, hasil ini mencakup populasi dan jenis intervensi yang beragam sehingga tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai bukti khusus untuk penderita diabetes.

Mengapa Hasil Penelitian Bisa Berbeda?

Perbedaan hasil penelitian dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Pertama, metode pemanasan. Sauna inframerah, sauna kering, dan berendam air hangat memberikan karakteristik paparan panas yang berbeda. Cara panas berpindah ke jaringan serta perubahan suhu tubuh tidak selalu sama.

Kedua, durasi dan frekuensi. Satu sesi pemanasan belum tentu memberikan respons yang sama dengan program berulang selama beberapa minggu.

Ketiga, kondisi peserta. Usia, tingkat kebugaran, durasi diabetes, penggunaan obat, fungsi pembuluh darah, dan komplikasi dapat memengaruhi respons terhadap paparan panas.

Keempat, jenis pemeriksaan. Perubahan sensitivitas insulin saat puasa tidak selalu diikuti perubahan pengendalian glukosa setelah makan. Begitu pula kadar HSP70 dalam darah belum tentu mencerminkan kandungan HSP70 di jaringan otot atau organ lain.

Perbedaan-perbedaan tersebut menjelaskan mengapa satu hasil penelitian tidak dapat digunakan untuk membuat kesimpulan umum mengenai semua bentuk pemanasan pasif.

Risiko Paparan Panas bagi Penderita Diabetes

Aspek keamanan perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan potensi manfaat.

Penderita diabetes tertentu memiliki gangguan saraf otonom yang dapat memengaruhi pengaturan suhu tubuh dan produksi keringat. Jika kemampuan tubuh membuang panas menurun, risiko kelelahan akibat panas dan gangguan serius seperti heat stroke dapat meningkat.

Paparan suhu tinggi juga dapat memperbesar risiko dehidrasi. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dehidrasi dapat memengaruhi kadar glukosa dan keseimbangan cairan tubuh.

Pada penderita neuropati perifer, berkurangnya sensasi panas dapat membuat seseorang tidak menyadari bahwa kulitnya mengalami paparan suhu yang berlebihan. Hal ini menjadi perhatian khusus ketika menggunakan air sangat panas atau bantalan pemanas pada kaki.

Orang yang menggunakan insulin dan obat diabetes tertentu juga perlu memperhatikan perubahan kadar glukosa ketika tubuh menghadapi kondisi panas.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa gangguan saraf dan pembuluh darah akibat diabetes dapat memengaruhi kemampuan tubuh mendinginkan diri. CDC juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi dan lebih sering memantau glukosa ketika berada dalam kondisi panas.

Karena itu, penderita diabetes dengan neuropati, gangguan jantung, gangguan ginjal, atau masalah pengaturan tekanan darah sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mencoba sauna atau pemanasan pasif yang intens.

Apakah Terapi Panas Sudah Bisa Direkomendasikan sebagai Pengobatan Diabetes?

Berdasarkan penelitian yang tersedia, terapi panas belum dapat dianggap sebagai pengobatan standar untuk diabetes.

Sejumlah penelitian memberikan petunjuk mengenai kemungkinan perubahan sensitivitas insulin dan respons stres seluler. Namun, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pemanasan akut tidak memberikan perbaikan pengendalian glukosa.

Belum ada dasar yang cukup untuk menetapkan satu suhu, durasi, atau frekuensi sauna dan berendam air hangat sebagai protokol pengobatan diabetes yang terbukti efektif dan aman untuk semua pasien.

Pengelolaan diabetes tetap harus berfokus pada pendekatan yang memiliki bukti klinis, seperti pengaturan nutrisi, aktivitas fisik sesuai kondisi, pemantauan glukosa, serta penggunaan obat berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.

Penelitian HSP dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana pemanasan memengaruhi metabolisme sel, tetapi temuan tersebut belum dapat dijadikan alasan untuk mengganti pengobatan yang sudah diresepkan.

Terapi panas merupakan salah satu pendekatan yang sedang diteliti untuk memahami kemungkinan perubahan metabolisme pada penderita diabetes. Paparan suhu tertentu dapat mengaktifkan respons HSP, termasuk HSP70, yang berperan dalam pemeliharaan kualitas protein dan adaptasi sel terhadap tekanan.

Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan perubahan sensitivitas insulin setelah pemanasan pasif berulang. Namun, hasil penelitian mengenai glukosa darah, HbA1c, peradangan, dan HSP70 masih belum konsisten.

Dalam konteks ini, istilah terapi panas merujuk pada pemanasan pasif yang terkontrol, sedangkan respons HSP menggambarkan mekanisme adaptasi sel terhadap tekanan suhu.

Penelitian lebih lanjut dengan jumlah peserta lebih besar dan durasi lebih panjang diperlukan untuk memastikan manfaat serta keamanan pendekatan tersebut.

Untuk saat ini, sauna dan berendam air hangat tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengobatan diabetes. Pengelolaan penyakit tetap harus mengikuti bukti klinis dan kondisi masing-masing pasien.